Saturday, December 25, 2010

I Do Care!

Today's Christmas day, and I'm doing nothing. Well, actually I've no idea what to do. Just like an ordinary day, I'm doing what I want to spend my bored day. In the morning, I red my timeline on twitter, there's a good news, surely for my hobby (travelling), it was a special offer fare from one of Indonesia Airlines. I tried to open the website but I've got nothing. Then, to overcome my feeling, I opened youtube. Right, I found this video!


 

Firstly, I've got no hard feeling to this video. Who doesn't know Marcell? His voice could be so melted with your soul. I like him just the way he is. But, I tried to hear the lyric. Damn! Im so speechless. "Okay, calm down, Thar!", my voice within. I'm used to face this unpredictable thing nicely by seeing this video sequentially. Scene by scene till the end. And I found some resemblance, not at all.

But, wait, this is not over. I found those comment. I red her expressions. Gosh! What Kind of video is this. Correctly, what kind of story WE have. They asked about differences, God, and religion. They asked about why, why, and why! Honestly, I almost cried when I was reading their comments one by one. So sad. While people out of there shout out about religious bigotry, however there're people who fight for unity because of love.

Monday, December 20, 2010

Nothing On Christmas!

Well, I got it! It isnt about how many times I went to Batam, or how long I stayed in that bored town. Its about Christmas. If Mariah Carrey tells you that all she wants for Christmas was 'you', I'll tell you a different one. For me, no one could cover my feeling by anything when Christmas starting. I do hate Christmas at all! For it begins on December, for it celebrates on 25rd, for it helds by family, for it marks with 'warmth', and for it ends by nothing. Ya, nothing. Nothing happen after all. Most of people just like dolls, dancing to put christmas tree's stuff when December coming, they're drawing something like peace's sign on the Christmas day. May I call it by pseudo-day? Because you got your smile on that day as a stuff too, then you'll put it down when everything's over.

For So Many Times, Batam!

Time goes so fast, and all these unpredictable things bring me to my town for a hundredth time. I dont know, is it good news or not, looks close to a bored activity. Stay at home for a couple weeks, take care my little brother in the morning, help my mother's business as a cashier, go to chinese mall (most bored thing in Batam), and do some detox because of my mother's madness to healthy. Imagine it! Gosh.. if Batam was Bali, maybe I'll catch it as often as possible. Then, I am just a dreamer.

And now, I have no idea to do. My clothes still in laundry, my suitcase still at my friend's room, my ticket hasnt been printed,  my sister's gift birthday hasnt been imagine, and also one exam schedule on my flight-day. So, could you show me where's the part that I have desire to go home? None.

Sunday, December 19, 2010

Itinerary

It's great to make some plans, to chose any opportunity, to create a moment, and to built a beautiful scene. Well, I am not sure what these things for, is it a right one to cover the bad scenes, or just a mad one as adult-nature? Whatever it is, I am doing so fine. I will, surely if God's will be present on my plan.

Some people said that you have to create a good moment, and other said (sometimes) you have to let it be and just wait for the right time. Then I just thinking, If I were a bartender, I'll shake it in a glass to mix it as a one. Why? Because one thing has their good side and their bad side, isnt it? So, make your brain works, how if two things imperfect collide and be so melt in every side: They live for complement. Then, heres the result, heres the plan which is born by time, intention, and effort. Wish me luck to prove it.

Lodtunduh, Ubud

I dont know why, it's like licking a lollipop, my heart beats quickly, and all I wanna do is smile, smile, and smile.  Yap, this is my dream which is come from Dewi Lestari's book, named Perahu Kertas. So, I think I dont need to put many words here to tell how much dances I got to wait it for real! You've got it, guys.




Water Blow, Nusa Dua

A lot of water fly as a splash around you. Hmm.. sounds amazing, huh? Once more you got melt with air, water, the island, and also the lovely. Yap, it'll be one of the wonderfull piece in my scene.



Danau Batur, Kintamani

Honestly, I dont get any chemistry with this place. Its just because the Kintamani, and Batur lake just one of tourist object in Kintamani. Maybe I'll take my time to cross the lake to Trunyan, but its hanging to my courage-level there hahahah.


Blue Point Beach

What kind of words I have to describe this beach? Firmly, I have nothing, because nothing to describe, rightly nothing to have a correction. It makes my mood availaible on the highest level suddenly. Be real, please.



Dinner at Jimbaran

Sunset, candles, beach, seafood, fresh air, and lovely. I guess it close to a perfect one. It'll be perfect if this moment could be 'our' moment when everything going so old one day. But, at least, I ever had a great picture in Jimbaran.







No prohibition to make some plans, isnt it? So, I did. And surely it isnt separated from God's will. I do my little job, God :)

Friday, November 12, 2010

Cerbung: Ajar Aku Berbicara Tentang...

Barangkali malam ini tak terlihat pas jika arakan awan menutupi bulan penuh yang menggantung di atas sana. Atau mungkin, tidak berlebihan jika sebotol Muscat yang berbalut ratusan uap air itu hilang dari daftar pesanan. Tidak, tidak ada yang istimewa kali ini, hanya perpisahan kecil-kecilan yang secara kebetulan terlihat menawan. Entahlah, apa ini perpisahan dengan mimpi-mimpi atau bahkan dengan cerminan diri.

Kertas persegi panjang ini memang tak akan pernah sampai kepadamu, wahai Neptunus. Karena memang sebenarnya aku hanya ingin berbicara kepada diriku sendiri. Berdiskusi tentang keadaanku di tengah angin malam, di depan setangkai bungaa lili kesukaan Ibu, dan di antara dentingan kord-kord piano yang terdengar tak lazim di telinga. Lebih dari itu, aku ingin bercengkrama dengan mimpi-mimpiku sebelum malam yang kemudian pasrah digusur pagi.

Mimpi, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri. Layaknya oase, ia mampu menyulap kadar kenyamananku serupa sungguhan. Bahkan, mimpiku mampu bermetamorfosis menjadi rasa manis yang ingin kukecap setiap saat. Boleh saja kamu bilang bahwa aku mempunyai afeksi berlebihan terhadap ekspektasiku, tapi ini nyata, setidaknya didalam kehidupan mimpiku.

Namun kurasa hatiku tahu, seperti logikaku pun tahu. Jika malam ini aku tidak memutuskan untuk berhenti bermimpi, itu karena aku tidak mengetahui bagaimana menangani kenyataan. Dan kesemuanya itu membawaku untuk kembali merunut tentang seutas perasaan mutual antara diriku dan sang mimpi, bagaimana aku bisa mengenalnya, bagaimana aku bisa merasa nyaman dengannya, dan bagaimana ketika akhirnya dia dan aku menyatu. Tapi sial, aku tak pernah tau bagaimana sulitnya mengarang argumentasi yang cukup relevan untuk berpisah dengannya.

Saat-saat seperti ini selalu membuatku berfikir, apa aku yang terdidik cacat oleh kegilaan Ibu terhadap mimpi, atau mungkin ada satu bahasa di semesta ini yang tidak terikut ke dalam paket genetikku, sehingga aku salah kaprah mengenai mimpi. Padahal rasanya, mimpi tak mempunyai macam varian harafiah yang membuatnya menjadi sebuah kata yang terkesan ambigu.

Kini aku sampai di bagian bahwa aku telah menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas sepak terjang sang mimpi. Bahwa dalam kesempatan pertama yang kudapatkan ketika pilihan ku jatuh pada perpisahan, aku masih gelagapan. Kenyataannya, sifat konsumtifku terhadap mimpi menciptakan sensasi yang mampu meledak-ledak barang tiga menit aku mengacuhkannya. Aku memeliharanya seperti seorang pesakitan yang menenangkan diri dengan cara menghisap darah yang terinfeksi, bukan dengan rehab berkala.




lihat akhir kisah ini di Nada Minor edisi November 2010...

Saturday, October 30, 2010

Sepatah Dua Kata.

Why new?
Nggak tahu harus sedia payung, jas hujan atau lebih milih basah kuyub. Mungkin pilihan ini emang nggak serumit kali-bagi-tambah matematika, lebih simpel dari itu, ini cuma soal angka yang belakangnya nambah satu: 2011. Bukannya mau mikir macem-macem tapi ya emang yang macem-macem itu yang lagi eksis di kepala belakangan ini. Gimana kelanjutannya? Harus milih yang mana? Apa yang bakal diprioritasin? Worth it atau nggak? Pertanyaan-pertanyaan itu udah cukup mewakili jawaban yang kenyataannya nggak segampang pelafalannya. Tapi ya mau gimana lagi, terkadang apa yang dipasrahkan bisa berbuah jawaban yang tepat kan? So, I dont effort for it, just let it be :)


Honestly
Apa kabar ya dengan kota yang akhir-akhir ini jarang gue pikirin? Sekali lagi, gue pun bingung harus seneng apa sedih ketika gue berhasil ngikis beberapa memori tentang kota ini. Kalau tahu gue bakal diingetin lagi dengan cara seperti ini, gue lebih milih nggak ngelupainnya sama sekali. Tahu banget gimana rasanya ketimpa bencana, apalagi gue juga sempet ngerasain hal yang sama waktu gempa di Jogja. Jujur, pengen banget gue ke Jogja secepanya, sekedar berkunjung atau jadi relawan, tapi emang gue nggak bisa maksain keadaan kan ya? I've been saying same words, Jogja: see you!


So sorry
Okay. Kali ini sedikit tengsin mungkin ya buat ngutarain penyesalan gue. Setelah semua hal pait yang gue rasain, yang tadinya gue pikir gue bisa sendiri, dan ternyata gue salah total. Kangen banget buat diperhatiin kayak anak bocah sama mama papa :(. Maafin aku ya, Ma, Pa. I love you.


Kwek.. kwek..
Well. Gue nambahin satu hari lagi yang cukup bersejarah buat gue: 29 Oktober 2010. Di hari itu gue makan bebek untuk yang pertama kali seumur hidup gue. Awalnya gue emang ngerasa aneh ngedengar menu makanan yang ada bebeknya, buat gue ayam udah cukup deh. Sampai akhirnya gue ketemu Anggar, orang yang sama-sama nggak suka bebek. Gue dan dia nyimpulin kalo bebek tuh terlalu lucu buat dimakan. Mungkin sedikit aneh ya, tapi doi beberapa kali ngasih gue boneka bebek cuma buat ngingetin gue supaya jangan pernah makan bebek. Bisa dibilang ini cara terbaik untuk ngilangin memori tentang dia yang udah jauh banget. "Maaf ya, Njer!".

Sunday, August 15, 2010

Cerbung: Ajarku Berbicara Tentang...


"Nggak ada yang tahu pasti apa arti memiliki sampai ia berbicara tentang kehilangan. Nggak ada yang tahu pasti apa arti mengampuni sampai ia berbicara tentang kekhilafan. Nggak ada yang tahu pasti apa arti memberi sampai ia berbicara tentang kekurangan."


Kereta ini menjejak bumi. Bak bunga kepada Sang Matahari, Ia memasrahkan tautan gerbong-gerbongnya kepada likuan rel. Sesekali disinggahinya stasiun-stasiun yang searah dengan tujuannya. Jika saya beruntung, saya akan terbangun ketika ia berhenti di sebuah stasiun kecil nan sederhanan.

Bangunan berbata merah itu berdiri di tengah apitan dua sungai kecil. Tingginya tak lebih dari tiga meter, dan lebarnya kira-kira lima puluh meter. Saya tak tahu pasti mengapa saya selalu tergoda untuk terperangah ke arahnya. Setiap kali kereta ini berhenti di sisinya, saya tak punya alasan untuk tak menyapukan pandangan ke tiap sudutnya.

Saya ingat, siang itu hujan turun segelontor, membuat bulu kuduk saya berdiri disiram hawa dingin yang bertubi. Dan akhirnya saya terbangun. Namun, belum lagi mengecap sadar, ternyata deruan kereta yang semakin melemah menggoda saya untuk menoleh keluar jendela. Di sana tertulis Stasiun Karanggandul. Satu kata yang terlintas di pikiran saya: menawan.

Kereta ini tak pernah punya banyak waktu untuk berhenti di stasiun itu, paling lama lima menit, itu pun hanya digunakan masinis untuk memeriksa roda-roda mesin di bawah gerbong. Beberapa kali saya mengamati persinggahan ini, namun tak pernah saya dapati seorang penumpang yang naik atau pun turun dari kereta yang saya tumpangi. Ingin sekali rasanya bertanya kepada awak kereta, namun entah kenapa saya tak pernah melihat mereka melewati bangku-bangku penumpang ketika kereta menyinggahi stasiun itu...


lihat lanjutannya di Nada Minor edisi Agustus 2010

Thursday, August 12, 2010

12 Januari 2009

Kali ini emang nggalah-ngalahin rekorku yang pertama. Nggak cuma lamanya, tapi juga lika-likunya. Mungkin kalau mau diceritain, bisa semalam suntuk kali ya ngetiknya, hehe jadi berasa ngetik paper aja. Well, nggak ada gunanya juga ngerunut-runut yang udah kejadian, biar jadi pengalaman aja. Satu yang pasti, banyak hal yang udah aku lewatin bareng kamu. Mulai dari yang paling miris, sampai yang paling WOW! Jadi nyadar, ternyata satu tahun tujuh bulan bisa jadi waktu yang lumayan panjang ya untuk diisi dengan berbagai macam hal. Nggak kebayang deh kalau aku harus ngelupain semuanya.

Buat kamu, makasih ya. Aku harap kamu bisa jadi orang yang jauh lebih baik, jauh lebih dewasa, dan mau belajar dari kesalahan yang udah udah. Maaf  kalo selama ini aku sering ngungkit-ngungkit kesalahan kamu yang dulu, itu karena aku nggak sesempurna Nabi yang bisa maafin dan ngelupain kesalahan seseorang gitu aja. Tapi aku janji, aku bakal berusaha untuk ngejalanin apa yang ada sekarang.

Over all, selamat satu tahun tujuh bulan ya, Mbem! Abdi bogoh ka anjeun :*
.

Sunday, August 08, 2010

Pasir Putih Sadranan

“Sinar keemasan itu mengecap gelembung kecil di sudut karang. Tatkala kemilaunya membelai lembut pandanganku, aku berdecak memuja mahakarya Sang Pencipta”

Lamat-lamat kupandangi pasir putih yang mengubur jejak kakiku. Hingga pada akhirnya, kutemui cakrawala berbatas samudera. Memukau, sungguh-sungguh memukau. Aku tergelak melihat isinya, betapa mempesona, pikirku. Ku ikuti senandung debur ombak yang selaras dengan kicauan burung di lintasan langit kebiruan, indahnya tak pernah terkira.

Pelan ku melayangkan pandanganku ke sisi barat, di sana terpatri karang kokoh yang membentuk gua. Kemudian sejajar dengan itu, ku amati susunan karang kecil yang melebur bersama ombak. Bayangkan! Kamu bisa mendengar hingar syahdu alam yang berkecamuk saking sepinya. Kini, belum lagi ku terperangah menikmati beningnya air di bibir pantai, ikan-ikan kecil sudah mampu mencuri perhatianku.

Tadinya, aku tak terlalu berharap jauh akan pantai yang kali ini menjadi tujuanku. Sekedar iseng-iseng yang ternyata berhadiah, aku dan tiga orang temanku menelusuri jalan ke arah salah satu kabupaten Gunung Kidul, Wonosari. Bisa jadi ini merupakan pengalaman tak terlupakan. Bagaimana tidak? Bermodal dua sepeda motor kami nekat menempuh waktu selama dua jam untuk sampai di pantai molek ini, Sadranan.

Berawal dari temu kangen antar sahabat SMA, kami akhirnya merencanakan hari yang akan kami habiskan bersama. Dan tak lama, muncul sederetan nama tempat-tempat yang pernah kami kunjungi. Tak banyak pembahasan akan rencana ini, karena memang kami sudah tahu medannya. Namun, tak sengaja seorang sahabatku menceletukkan satu nama pantai yang terdengar begitu asing di telingaku dan yang lainnya. Hmm.. memang dasar mental petualang, kami sepakat untuk banting setir ke arah pantai tersebut.

Subuh itu, hawa dingin Kota Jogja memang menelusup hingga ke tulang, namun itu tak sedikit pun menyurutkan semangat kami untuk berkelana. Sejenak aku membereskan isi tas ranselku, kemudian aku membantu seorang sahabatku yang sibuk mempersiapkan bekal kami, maklum katanya tak ada satu kedai pun di sana. Setelah semua persiapan terasa cukup, kami pun berangkat beriringan.

Kami menempuh perjalanan yang cukup panjang, kurang lebih sekitar 72 kilometer dari Kota Jogja. Sawah, pepohonan, bukit-bukit hijau hingga lembah, tersuguhkan di sepanjang perjalanan kami. Beberapa kali kami berhenti di persimpangan jalan untuk bertanya arah, namun ternyata tak banyak yang tahu tentang pantai ini. Benar kata sahabatku, pantai Sadranan merupakan salah satu pantai yang masih perawan.


Setelah dua jam perjalanan, kami sampai di pantai Baron. Kami sengaja menyinggahi pantai ini karena seorang sahabatku berkata bahwa untuk menuju pantai Sadranan harus melewati pantai Baron. Sesuai pentunjuk sekitar pantai Baron, kami menempuh jarak tujuh kilometer lagi untuk sampai di pantai Sadranan. Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Dua puluh menit berlalu, akhirnya kami sampai di jalan tanah yang terlihat sedikit offroad. Lima menit kemudian kami disambut oleh gundukan pasir putih yang sesekali berharmonisasi dengan gemuruh ombak. Tentu senyum tipis mengembang di wajah kami masing-masing. Kami memarkirkan sepeda motor di satu-satunya gubuk milik warga sekitar, sekali parkir untuk sepeda motor adalah Rp. 2.000 dan mobil Rp. 5.000. Sedangkan untuk masuk ke pantai, kami tak di pungut biaya sepeser pun. Murah bukan?  Jadi, tunggu apa lagi? Selamat menikmati pantai Sadranan, jangan lupa berikut sunsetnya.



Wednesday, August 04, 2010

Katanya Proses?

Kenapa ya, gue nggak pernah setuju ama sekolah yang nyari high quality student? Bukannya gue ngerasa nggak sanggup ama potensi diri gue dibandingin ama persyaratan yang  bla bla bla itu, tapi helooo kok kayaknya orang-orang zaman sekarang keliatan banget ya munafiknya? Nggak usah jauh-jauh deh, lo tonton aja acara di televisi, banyak banget acara multi talented yang para jurinya ngomongin soal PROSES! Kenyataannya, nggak ada yang berubah tuh dengan pemikiran kita.

Sekarang logikanya gini aja deh. Hampir semua sekolah di Indonesia ngebeberin segala macam tetek bengek persyaratan buat calon muridnya, alhasil, calon murid yang daftar pasti high quality dong (apa lagi yang keterima.pen), kalo udah begitu, apa yang dikerjain sekolah itu selama tiga tahun? Toh, dari orok murid yang diterima juga udah pinter, ya berarti persentase ketidaklulusan tuh sekolah juga kecil banget kan? Nah, coba lo bandingin dengan sekolah yang nerima murid 'ala kadarnya' tapi sekolah tersebut bisa ngebuat citranya bagus dengan meluluskan semua murid-muridnya, lo bisa banyangin dong gimana kerja keras sekolah tersebut selama tiga tahun?

Kenapa gue ngambil contoh dari dunia pendidikan sesederhana kinerja sebuah sekolah karena gue ngerasa sekolah tuh rumah ke dua lo setelah keluarga. Dan itu penting banget buat membentuk kepribadian lo semenjak awal. Kalo sekolah-sekolah aja nggak bisa praktekin hal-hal krusial seperti ini, gimana nasib penerus kita nanti? Karena kenyataannya apa yang dihilat justru yang mudah ditiru.

Dari contoh di atas aja udah ketauan kalo masih banyak orang-orang yang masih omdo (omong doang.pen) tentang proses. Lo gimana?

Sunday, August 01, 2010

Hallo, Batam!

"Berasa ada di Cina ya hasshh.."
"Ini orang-orang sipit bisa nggak sih pake Bahasa Indonesia aja kalo ngomong? Sakit telinga gue"
"Dasar pulau, pelayanannya sampah banget! errggghh"
"Ih, asik ke Singapur cuma sejaman"
"Mall di sini jelek-jelek ya, nggak menarik sama sekali"
"Sumpah, ini mobil berisik banget deh, berasa keren apa doi dengan geber-geber gitu?"
"Kaka? Tumbuk? Laju? Pipet? Nampak? Melayu banget nget nget ngeeeettt..."
"Yaampun, plis deh ya cici-cici dan koko-koko, pakaian kalian norak parah, cuma ke mall kan? berasa mau kemana. ck ck ck"
"Mau apa? Parfume? Ipod? BB? wahhh, murah ya"
"Ini kota demen banget deh plagiat Negara tetangga, ya WTC lah, ya Jembatan lah. Follower!"
"Tau nggak? Di sini pertama kali nya garbarata di pake. Keren ya?"
"Taxi gelapnya berjubel, udah gitu matok harganya semaunya!"

Overall, gue seneng bisa pulang lagi ke Batam!

Tuesday, July 27, 2010

cin(T)a

Dear God.

But since they call God with difference names,
they can't love each other.

***

Capek deh gua ngomong yg ginian.
Lu gak bisa ya kayak cowok normal lainnya ?
Ajakin gua ke Paris kek ! Beliin gua berlian kek ! Buatin gua puisi kek !

Yuk, kita ke Ambon yuk?
Biar kau lihat, agama tu udah jadi propaganda paling buron dan efektif dalam sejarah bunuh-bunuhan manusia.

***

Dunia ini udah kebanyakan agama, kebanyakan Tuhan.

Kita dikasih preferensi lebih buat belajar.
Orang bodoh yang tak tau apa-apa, lebih mudah tuk diprovokasi.

***

Lu kira di Jerusalem tu orangnya bego semua ?
Tapi ribuan tahun, gak berhenti juga tu konflik yang lama.

Jadi kita diam aja ?

***

Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda,
kalau Allah cuma pingin disembah dalam satu cara.

Makanya, Allah nyiptain cinta.
Biar yang beda-beda, bisa nyatu.

***

Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama, dan kami sembah dalam berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang kau berikan, jauhkanlah kami dari percobaan.
Amin

Thursday, July 22, 2010

Cukup Untuk Yogyakarta



Ini kali ke tujuh aku menyapamu sejak kutanggalkan seragamku. Dua tahun lalu ternyata tak semudah malam ini. Lekat-lekat kutelusuri setiap meter perjalananku yang akan mengakhirimu. Hingga akhirnya peluit melepas raga dengan separuh jiwanya.

Kau selalu menyapaku ramah. Bahkan ketika ku singgahi kau berikut pilu, kau masih sama. Seolah kampung halaman, kau memaksaku untuk selalu merindu. Aku tak mengerti senyawa jenis apa yang mengikat aku dan kamu. Yang ku tahu, kepadamu... aku selalu ingin pulang.




Aku pasti menemuimu, Yogyakarta, tapi tidak dalam waktu dekat.

Wednesday, July 21, 2010

Menulis atau Menghapus?

Tanya:
Lebih sulit mana, menulis atau menghapus?

Jawab:
Sepintas, menghapus terlihat sebagai pekerjaan yang lebih mudah ketimbang menulis. Bayangkan saja, ketika kau menulis, kau harus berfikir: Apa yang akan ditulis? atau Huruf apa yang selanjutnya kutulis? Tapi bandingkan dengan menghapus, kau tinggal melayangkan tanganmu dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Mudah bukan?

Namun, terpikirkankah kau akan pilihan yang ada di masing-masingnya? Ketika kau menulis, kau hanya diperhadapkan dengan satu pilihan yang boleh disebut tak terlalu beresiko: mulai menulis atau tidak sama sekali? Artinya, ketika kau memutuskan untuk menulis, kamu akan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebaliknya, ketika kau memutuskan untuk tidak menulis, kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan, ya singkatnya, jangankan merasakan akibat, tahu saja tidak.

Di sisi lain, ketika kau menghapus, kau diperhadapkan dengan satu pilihan yang cukup beresiko: apa ini akhir dari apa yang kau kerjakan (baca: sia-sia), lalu apakah aku harus menghapusnya? Pertanyaan ini terkesan dikembalikan lagi kepadamu, singkatnya kau mempertanyakan caramu menghormati apa yang telah kau kerjakan (menulis).

Ajar Aku Berbicara Tentang...

"Nggak ada yang tahu pasti apa arti memiliki sampai ia berbicara tentang kehilangan. Nggak ada yang tahu pasti apa arti mengampuni sampai ia berbicara tentang kekhilafan. Nggak ada yang tahu pasti apa arti memberi sampai ia berbicara tentang kekurangan."

Langkah awalku tak bercerita banyak. Hanya satu, iya mempersilahkan aku memulai apa saja, semauku. Tentu tak ada godaan untuk menoleh, apalagi sampai memutar separuh kepalaku. Bagaimana tidak? Aku baru saja melangkah, dan kurasa aku tak punya alasan untuk melihat bekas tapakku.

Hal mudah, bahkan mungkin terlalu mudah untuk dikerjakan. Bukankah aku dan kamu suka akan rahasia? Mengetahui tujuan yang tak sepenuhnya menjadi tujuan hati, bagi kita: mulai saja dulu. Lagi pula, apa susahnya memulai ketika kisah kita dulu terlihat begitu kusam? Sebagian dari kita lebih suka merunut harapan baru, menebak-nebak kebahagian yang tak terkira di depan, kau berkata,"ini lebih seru!".

Aku kini berkelakar tentang harapan. Sesuatu yang tak pasti, ya, aku dan kau tahu itu. Namun, apa kau tahu seberapa jauh kita hanya hidup di dalamnya?
Dengar, terkadang aku tidak ingin hanya sekedar hidup di dalamnya, lebih dari itu, aku ingin menghidupinya.

Tuesday, July 20, 2010

Seceruput penggalan fiksi saya (Proyeksi, 2010)

"Apa yang kau rasakan ketika mendengar seseorang yang berkata ingin dan akan selalu bersamamu? Rasa senang karena telah menemukan pasangan hidupmu? Atau rasa penasaran sampai kapan ia akan bertahan dengan ucapannya itu?"

“ Yaudahlah, Dis. Jangan terlalu dipikirkan. Btw, gue cabut dulu ya, sampai ntar sore!”
“Ntar sore?”
“Oon kan lo! Ini hari Jumat, Neng. Ntar sore kan ada acara penggalangan dana jam tiga sore.”
“Oh..iya,” Aku mendongakkan kepalaku menatap Bian seiring senyuman tipis yang terlihat sedikit memaksa.

***

Hari jumat, tepat sembilan belas bulan yang lalu, jam tiga sore, acara penggalangan dana. Ya, bagaimana aku bisa lupa dengan peristiwa itu? Waktu itu hujan turun bak air bah, tiga menit saja aku berdiri di tengah lapangan, air itu berhasil menelusup hingga ke benang-benang bajuku. Tapi, entah kenapa rasionalku tak berbicara soal logika. Kususuri koridor demi koridor hingga sampai pada parkiran kampus. Namun sayang, seolah sedang meniti rintangan seperti si Mario Bross di salah atu pilihan permainan netendo adikku, aku pun harus mendengus melihat bensinku yang tak bisa di ajak kompromi.

Aku berbalik, namun tidak berjalan. Seperti orang kesetanan, aku mengucap satu mantra, cepat.. cepat.. cepat. Aku menghampiri Bian untuk meminjam motornya. Lalu, satu jam berikutnya, tibalah aku di depan kamar kosnya. Tentu saja, basah kuyub. Aku menerobos masuk dan kudapati dia berbaring membelakangiku. Ku tarik lipatan selimut yang tertimpa di bawah jempol kakinya untuk menutupinya hingga sebatas pundak. Kuliat Ia sadar dan tercekat. Aku tersenyum dan berkata, “Sekarang sudah lebih hangat, bukan?”.

Bukan gila, bukan juga tergila-gila, tapi itulah cinta. Terkadang aku membiarkan logika ku terhenti di ujung saraf hanya untuk memberi cela agar dapat ku persilahkan dia bertahta di sana. Siapa yang sangka? Sore itu dia hanya mengirimkan pesan singkat yang kini melebihi kecepatan air dan udara, tiba-tiba tertera di layar ponselku, hanya dalam waktu beberapa detik saja. Isinya,”gue kehujanan, dingin banget brr”. Tapi seperti ingin melangkahi teknologi canggih secepat pengiriman pesan via ponsel, aku pun secepat kilat ingin menghampirinya, ya, hanya untuk menyelimutinya. Betapa logika tidak ada di kamusku saat itu.

Kini, genap sudah setahun tujuh bulan aku memikirkannya. Tepatnya, Sembilan belas bulan, atau sebut saja, lima ratus tujuh puluh hari. Ya, lebih tepat lagi sekitar tiga belas ribu enam ratus delapan puluh jam, dan lebih mendetailnya, delapan ratus dua puluh ribu delapan ratus menit. Jika boleh, akan ku hitung hingga empat puluh sembilan juta dua ratus empat puluh delapan ribu detik. Dan lihat, ternyata rasionalku telah mengembalikan sang logika hingga akhirnya, aku sampai pada satuan milisekon: 2.954.880.000. Sempurna!

Cintaku matematis sekarang. Kulaului satahun tujuh bulan hanya untuk mendapatinya tergusur oleh logikaku. Lalu, apa saat ini aku masih cinta? Bukankah cinta tak mengenal logika? Atau mungkin, cintaku kini bermutasi, tapi jika kau tanya jadi apa sekarang, aku belum tahu.

nb: ini hanya pertengahan, awal dan akhir cerita menyusul atau lihat di Nada Minor terbitan Viaduct :D

Negara Tetangga (lagi)

Kedaulatan negara merupakan isu sensitif yang sedang memanas akhir-akhir ini. Bukan tidak mungkin bila Indonesia akan kembali bersinggungan dengan masalah ini. Beberapa waktu lalu kita sudah mengalaminya bukan? Ketika Indonesia dan Singapura memanas terkait situasi dan kondisi pulau-pulau Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Singapura.

Faktanya, Negara Indonesia berpotensi kehilangan pulau-pulau terdepan yang berbatasan langsung dengan Negeri Jiran akibat penambangan pasir besar-besaran. Konvensi Hukum Laut PBB menyatakan, batas laut antar dua negara diukur dari garis pantai asli. Sehingga dipahami, meskipun wilayah Singapura bertambah menjorok ke arah perairan Indonesia, batas maritim Indonesia sejatinya tidak berkurang. Namun perlu diingat, konvensi pun bisa bergeser secara faktual, jadi tidak menjamin bahwa teritori kita tidak akan pernah terusik.

Tidak usah jauh-jauh merunut akibat dari penambangan pasir ini, sebagai contohnya, abrasi yang terjadi di sebagian besar pantai-pantai yang kepulauan Riau sudah mencapai 35 meter. Bahkan, abrasi juga sudah menelan sebuah pulau, yang dikenal dengan nama Pulau Karang, tempat di mana nelayan biasanya berteduh dari hembusan angin yang terkadang tidak bersahabat. Di Desa Parit, Kecamatan Karimun, abrasi pantai sudah berada di tepi rumah salah seorang nelayan. Abrasi tersebut telah mencapai 24 meter. Di Pulau Buru, abrasi pantai juga terjadi sejauh 17 meter. Dan yang lebih parah, abrasi juga menghantam dan menghabiskan tiga baris perkebunan kelapa milik masyarakat di Lubuk Puding. Kenyataannya, inilah bukti tak terbantahkan bahwa ada penyusutan pulau yang tengah terjadi di Karimun yang telah mengalami percepatan dalam 2-3 tahun belakangan ini.

Jika kita memperhatikan data pengembangan wilayah Singapura, telah terjadi beberapa hal yang begitu mencengangkan. Pada tahun 1966 luas wilayah Singapura 581,5 kilometer persegi, 40 tahun kemudian luasnya bertambah menjadi 699 kilometer persegi. Total, ada penambahan luas wilayah 117,5 kilometer persegi. Padahal, target luas wilayah Singapura di tahun 2010 adalah bertambah 31 persen atau menjadi 774 kilometer persegi. Guna menambah daratan tersebut, material berupa pasir darat dan pasir laut tentunya harus ada dan didatangkan. Dari mana bahan-bahan tersebut didapat? Tidak lain dan tidak bukan dari Indonesia. Baik itu dari hasil mencuri lewat kapal penyedot pasir yang berjalan hilir mudik, seperti kapal patroli biasa, atau ekspor legal maupun ilegal pasir laut.

Sebagai gambaran saja, di Singapura ada delapan pulau kecil yang direklamasi, yang setelah digabungkan akan menjadi Pulau Jurong. Menurut data Departemen Kelautan dan Perikanan, untuk menciptakan Pulau Jurong saja diperlukan sedikitnya 300 juta meter kubik pasir laut. Jumlah pasir sebanyak itu cukup untuk menciptakan wilayah baru seluas lebih kurang 16 kilometer persegi. Dan untuk menciptakan wilayah baru seluas 15,3 kilometer persegi pada tahun 1975, Singapura memerlukan 244 juta meter kubik pasir laut.

Tentu saja gambaran di atas menyiratkan banyak kemungkinan buruk yang dapat kembali terjadi pada negara kita. Hal ini penting, dan tentu sangat sensitif, karena fakta menunjukkan, hilangnya pasir laut telah berpotensi menghapus sejumlah pulau kecil Indonesia dari peta. Tidak heran kalau kita harus tetap waspada dan selalu mengingatkan institusi terkait, ekspor pasir dari pulau-pula terluar secara legal ataupun ilegal untuk Singapura bisa menggeser garis perbatasan laut. Singkatnya, Indonesia bisa kehilangan pulau yang lagi-lagi direbut oleh Negara tetangga. Lagi pula, apa bedanya diklaim oleh negara tetangga dengan di keruk pasinya utuk dijadikan pulau milik negara tetangga?

Sehubungan dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 02/MDAG/PER/1/2007 tentang Larangan Ekspor Pasir, Tanah dan Top Soil (Termasuk Tanah Pucuk atau Humus) tanggal 22 Januari 2007. tentu membuat Singapura meradang. Setidaknya dengan peraturan tersebut, Singapura terpaksa menghentikan proyek besarnya. Memang benar, seharusnya Singapura bisa saja mengimpor pasir dari negara lain seperti Kamboja, Tiongkok, atau Vietnam, namun perlu diketahui biar bagaimanapun Indonesia adalah pengekspor pasir terbesar bagi Singapura.

Sebagai antisipasi, salah satu langkah yang harus ditempuh ialah peningkatan pengamanan yang dilakukan aparat TNI-AL di sekitar perbatasan wilayah Singapura-Indonesia. Ini diakibatkan garis perbatasan wilayah yang belum jelas dapat menjadi faktor maraknya penyelundupan pasir darat.

Pada akhirnya, memang harus dipahami bahwa warga negara Indonesia yang terlibat dalam perdagangan (ekspor) pasir ilegal ke Singapura kemungkinan hanya karena desakan kondisi ekonomi semata-mata, bukan kesengajaan untuk turut berperan menggeser batas-batas wilayah negaranya sendiri. Dalam hal ini diharapkan peran aktif dari instansi terkait agar senantiasa berupaya membangkitkan rasa nasionalisme warganegara Indonesia di wilayah-wilayah penambangan pasir untuk ekspor (ilegal) tersebut. Nasionalisme yang kita harapkan dapat dimulai dengan memunculkan kesadaran teritorial yang kuat, dengan pendekatan yang tepat. Contohnya. dengan peningkatan kesejahteraan melalui pengadaan fasilitas di daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Monday, July 19, 2010

"If I didn’t have you then. What will become of me? If I had never met you girl. How would my life be? Would I be the same? If I’d been loving another name. Would I stay untamed. Would there be any aim? So whom I will be.." -Daniel Sahuleka