Tuesday, July 27, 2010

cin(T)a

Dear God.

But since they call God with difference names,
they can't love each other.

***

Capek deh gua ngomong yg ginian.
Lu gak bisa ya kayak cowok normal lainnya ?
Ajakin gua ke Paris kek ! Beliin gua berlian kek ! Buatin gua puisi kek !

Yuk, kita ke Ambon yuk?
Biar kau lihat, agama tu udah jadi propaganda paling buron dan efektif dalam sejarah bunuh-bunuhan manusia.

***

Dunia ini udah kebanyakan agama, kebanyakan Tuhan.

Kita dikasih preferensi lebih buat belajar.
Orang bodoh yang tak tau apa-apa, lebih mudah tuk diprovokasi.

***

Lu kira di Jerusalem tu orangnya bego semua ?
Tapi ribuan tahun, gak berhenti juga tu konflik yang lama.

Jadi kita diam aja ?

***

Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda,
kalau Allah cuma pingin disembah dalam satu cara.

Makanya, Allah nyiptain cinta.
Biar yang beda-beda, bisa nyatu.

***

Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama, dan kami sembah dalam berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang kau berikan, jauhkanlah kami dari percobaan.
Amin

Thursday, July 22, 2010

Cukup Untuk Yogyakarta



Ini kali ke tujuh aku menyapamu sejak kutanggalkan seragamku. Dua tahun lalu ternyata tak semudah malam ini. Lekat-lekat kutelusuri setiap meter perjalananku yang akan mengakhirimu. Hingga akhirnya peluit melepas raga dengan separuh jiwanya.

Kau selalu menyapaku ramah. Bahkan ketika ku singgahi kau berikut pilu, kau masih sama. Seolah kampung halaman, kau memaksaku untuk selalu merindu. Aku tak mengerti senyawa jenis apa yang mengikat aku dan kamu. Yang ku tahu, kepadamu... aku selalu ingin pulang.




Aku pasti menemuimu, Yogyakarta, tapi tidak dalam waktu dekat.

Wednesday, July 21, 2010

Menulis atau Menghapus?

Tanya:
Lebih sulit mana, menulis atau menghapus?

Jawab:
Sepintas, menghapus terlihat sebagai pekerjaan yang lebih mudah ketimbang menulis. Bayangkan saja, ketika kau menulis, kau harus berfikir: Apa yang akan ditulis? atau Huruf apa yang selanjutnya kutulis? Tapi bandingkan dengan menghapus, kau tinggal melayangkan tanganmu dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Mudah bukan?

Namun, terpikirkankah kau akan pilihan yang ada di masing-masingnya? Ketika kau menulis, kau hanya diperhadapkan dengan satu pilihan yang boleh disebut tak terlalu beresiko: mulai menulis atau tidak sama sekali? Artinya, ketika kau memutuskan untuk menulis, kamu akan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebaliknya, ketika kau memutuskan untuk tidak menulis, kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan, ya singkatnya, jangankan merasakan akibat, tahu saja tidak.

Di sisi lain, ketika kau menghapus, kau diperhadapkan dengan satu pilihan yang cukup beresiko: apa ini akhir dari apa yang kau kerjakan (baca: sia-sia), lalu apakah aku harus menghapusnya? Pertanyaan ini terkesan dikembalikan lagi kepadamu, singkatnya kau mempertanyakan caramu menghormati apa yang telah kau kerjakan (menulis).

Ajar Aku Berbicara Tentang...

"Nggak ada yang tahu pasti apa arti memiliki sampai ia berbicara tentang kehilangan. Nggak ada yang tahu pasti apa arti mengampuni sampai ia berbicara tentang kekhilafan. Nggak ada yang tahu pasti apa arti memberi sampai ia berbicara tentang kekurangan."

Langkah awalku tak bercerita banyak. Hanya satu, iya mempersilahkan aku memulai apa saja, semauku. Tentu tak ada godaan untuk menoleh, apalagi sampai memutar separuh kepalaku. Bagaimana tidak? Aku baru saja melangkah, dan kurasa aku tak punya alasan untuk melihat bekas tapakku.

Hal mudah, bahkan mungkin terlalu mudah untuk dikerjakan. Bukankah aku dan kamu suka akan rahasia? Mengetahui tujuan yang tak sepenuhnya menjadi tujuan hati, bagi kita: mulai saja dulu. Lagi pula, apa susahnya memulai ketika kisah kita dulu terlihat begitu kusam? Sebagian dari kita lebih suka merunut harapan baru, menebak-nebak kebahagian yang tak terkira di depan, kau berkata,"ini lebih seru!".

Aku kini berkelakar tentang harapan. Sesuatu yang tak pasti, ya, aku dan kau tahu itu. Namun, apa kau tahu seberapa jauh kita hanya hidup di dalamnya?
Dengar, terkadang aku tidak ingin hanya sekedar hidup di dalamnya, lebih dari itu, aku ingin menghidupinya.

Tuesday, July 20, 2010

Seceruput penggalan fiksi saya (Proyeksi, 2010)

"Apa yang kau rasakan ketika mendengar seseorang yang berkata ingin dan akan selalu bersamamu? Rasa senang karena telah menemukan pasangan hidupmu? Atau rasa penasaran sampai kapan ia akan bertahan dengan ucapannya itu?"

“ Yaudahlah, Dis. Jangan terlalu dipikirkan. Btw, gue cabut dulu ya, sampai ntar sore!”
“Ntar sore?”
“Oon kan lo! Ini hari Jumat, Neng. Ntar sore kan ada acara penggalangan dana jam tiga sore.”
“Oh..iya,” Aku mendongakkan kepalaku menatap Bian seiring senyuman tipis yang terlihat sedikit memaksa.

***

Hari jumat, tepat sembilan belas bulan yang lalu, jam tiga sore, acara penggalangan dana. Ya, bagaimana aku bisa lupa dengan peristiwa itu? Waktu itu hujan turun bak air bah, tiga menit saja aku berdiri di tengah lapangan, air itu berhasil menelusup hingga ke benang-benang bajuku. Tapi, entah kenapa rasionalku tak berbicara soal logika. Kususuri koridor demi koridor hingga sampai pada parkiran kampus. Namun sayang, seolah sedang meniti rintangan seperti si Mario Bross di salah atu pilihan permainan netendo adikku, aku pun harus mendengus melihat bensinku yang tak bisa di ajak kompromi.

Aku berbalik, namun tidak berjalan. Seperti orang kesetanan, aku mengucap satu mantra, cepat.. cepat.. cepat. Aku menghampiri Bian untuk meminjam motornya. Lalu, satu jam berikutnya, tibalah aku di depan kamar kosnya. Tentu saja, basah kuyub. Aku menerobos masuk dan kudapati dia berbaring membelakangiku. Ku tarik lipatan selimut yang tertimpa di bawah jempol kakinya untuk menutupinya hingga sebatas pundak. Kuliat Ia sadar dan tercekat. Aku tersenyum dan berkata, “Sekarang sudah lebih hangat, bukan?”.

Bukan gila, bukan juga tergila-gila, tapi itulah cinta. Terkadang aku membiarkan logika ku terhenti di ujung saraf hanya untuk memberi cela agar dapat ku persilahkan dia bertahta di sana. Siapa yang sangka? Sore itu dia hanya mengirimkan pesan singkat yang kini melebihi kecepatan air dan udara, tiba-tiba tertera di layar ponselku, hanya dalam waktu beberapa detik saja. Isinya,”gue kehujanan, dingin banget brr”. Tapi seperti ingin melangkahi teknologi canggih secepat pengiriman pesan via ponsel, aku pun secepat kilat ingin menghampirinya, ya, hanya untuk menyelimutinya. Betapa logika tidak ada di kamusku saat itu.

Kini, genap sudah setahun tujuh bulan aku memikirkannya. Tepatnya, Sembilan belas bulan, atau sebut saja, lima ratus tujuh puluh hari. Ya, lebih tepat lagi sekitar tiga belas ribu enam ratus delapan puluh jam, dan lebih mendetailnya, delapan ratus dua puluh ribu delapan ratus menit. Jika boleh, akan ku hitung hingga empat puluh sembilan juta dua ratus empat puluh delapan ribu detik. Dan lihat, ternyata rasionalku telah mengembalikan sang logika hingga akhirnya, aku sampai pada satuan milisekon: 2.954.880.000. Sempurna!

Cintaku matematis sekarang. Kulaului satahun tujuh bulan hanya untuk mendapatinya tergusur oleh logikaku. Lalu, apa saat ini aku masih cinta? Bukankah cinta tak mengenal logika? Atau mungkin, cintaku kini bermutasi, tapi jika kau tanya jadi apa sekarang, aku belum tahu.

nb: ini hanya pertengahan, awal dan akhir cerita menyusul atau lihat di Nada Minor terbitan Viaduct :D

Negara Tetangga (lagi)

Kedaulatan negara merupakan isu sensitif yang sedang memanas akhir-akhir ini. Bukan tidak mungkin bila Indonesia akan kembali bersinggungan dengan masalah ini. Beberapa waktu lalu kita sudah mengalaminya bukan? Ketika Indonesia dan Singapura memanas terkait situasi dan kondisi pulau-pulau Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Singapura.

Faktanya, Negara Indonesia berpotensi kehilangan pulau-pulau terdepan yang berbatasan langsung dengan Negeri Jiran akibat penambangan pasir besar-besaran. Konvensi Hukum Laut PBB menyatakan, batas laut antar dua negara diukur dari garis pantai asli. Sehingga dipahami, meskipun wilayah Singapura bertambah menjorok ke arah perairan Indonesia, batas maritim Indonesia sejatinya tidak berkurang. Namun perlu diingat, konvensi pun bisa bergeser secara faktual, jadi tidak menjamin bahwa teritori kita tidak akan pernah terusik.

Tidak usah jauh-jauh merunut akibat dari penambangan pasir ini, sebagai contohnya, abrasi yang terjadi di sebagian besar pantai-pantai yang kepulauan Riau sudah mencapai 35 meter. Bahkan, abrasi juga sudah menelan sebuah pulau, yang dikenal dengan nama Pulau Karang, tempat di mana nelayan biasanya berteduh dari hembusan angin yang terkadang tidak bersahabat. Di Desa Parit, Kecamatan Karimun, abrasi pantai sudah berada di tepi rumah salah seorang nelayan. Abrasi tersebut telah mencapai 24 meter. Di Pulau Buru, abrasi pantai juga terjadi sejauh 17 meter. Dan yang lebih parah, abrasi juga menghantam dan menghabiskan tiga baris perkebunan kelapa milik masyarakat di Lubuk Puding. Kenyataannya, inilah bukti tak terbantahkan bahwa ada penyusutan pulau yang tengah terjadi di Karimun yang telah mengalami percepatan dalam 2-3 tahun belakangan ini.

Jika kita memperhatikan data pengembangan wilayah Singapura, telah terjadi beberapa hal yang begitu mencengangkan. Pada tahun 1966 luas wilayah Singapura 581,5 kilometer persegi, 40 tahun kemudian luasnya bertambah menjadi 699 kilometer persegi. Total, ada penambahan luas wilayah 117,5 kilometer persegi. Padahal, target luas wilayah Singapura di tahun 2010 adalah bertambah 31 persen atau menjadi 774 kilometer persegi. Guna menambah daratan tersebut, material berupa pasir darat dan pasir laut tentunya harus ada dan didatangkan. Dari mana bahan-bahan tersebut didapat? Tidak lain dan tidak bukan dari Indonesia. Baik itu dari hasil mencuri lewat kapal penyedot pasir yang berjalan hilir mudik, seperti kapal patroli biasa, atau ekspor legal maupun ilegal pasir laut.

Sebagai gambaran saja, di Singapura ada delapan pulau kecil yang direklamasi, yang setelah digabungkan akan menjadi Pulau Jurong. Menurut data Departemen Kelautan dan Perikanan, untuk menciptakan Pulau Jurong saja diperlukan sedikitnya 300 juta meter kubik pasir laut. Jumlah pasir sebanyak itu cukup untuk menciptakan wilayah baru seluas lebih kurang 16 kilometer persegi. Dan untuk menciptakan wilayah baru seluas 15,3 kilometer persegi pada tahun 1975, Singapura memerlukan 244 juta meter kubik pasir laut.

Tentu saja gambaran di atas menyiratkan banyak kemungkinan buruk yang dapat kembali terjadi pada negara kita. Hal ini penting, dan tentu sangat sensitif, karena fakta menunjukkan, hilangnya pasir laut telah berpotensi menghapus sejumlah pulau kecil Indonesia dari peta. Tidak heran kalau kita harus tetap waspada dan selalu mengingatkan institusi terkait, ekspor pasir dari pulau-pula terluar secara legal ataupun ilegal untuk Singapura bisa menggeser garis perbatasan laut. Singkatnya, Indonesia bisa kehilangan pulau yang lagi-lagi direbut oleh Negara tetangga. Lagi pula, apa bedanya diklaim oleh negara tetangga dengan di keruk pasinya utuk dijadikan pulau milik negara tetangga?

Sehubungan dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 02/MDAG/PER/1/2007 tentang Larangan Ekspor Pasir, Tanah dan Top Soil (Termasuk Tanah Pucuk atau Humus) tanggal 22 Januari 2007. tentu membuat Singapura meradang. Setidaknya dengan peraturan tersebut, Singapura terpaksa menghentikan proyek besarnya. Memang benar, seharusnya Singapura bisa saja mengimpor pasir dari negara lain seperti Kamboja, Tiongkok, atau Vietnam, namun perlu diketahui biar bagaimanapun Indonesia adalah pengekspor pasir terbesar bagi Singapura.

Sebagai antisipasi, salah satu langkah yang harus ditempuh ialah peningkatan pengamanan yang dilakukan aparat TNI-AL di sekitar perbatasan wilayah Singapura-Indonesia. Ini diakibatkan garis perbatasan wilayah yang belum jelas dapat menjadi faktor maraknya penyelundupan pasir darat.

Pada akhirnya, memang harus dipahami bahwa warga negara Indonesia yang terlibat dalam perdagangan (ekspor) pasir ilegal ke Singapura kemungkinan hanya karena desakan kondisi ekonomi semata-mata, bukan kesengajaan untuk turut berperan menggeser batas-batas wilayah negaranya sendiri. Dalam hal ini diharapkan peran aktif dari instansi terkait agar senantiasa berupaya membangkitkan rasa nasionalisme warganegara Indonesia di wilayah-wilayah penambangan pasir untuk ekspor (ilegal) tersebut. Nasionalisme yang kita harapkan dapat dimulai dengan memunculkan kesadaran teritorial yang kuat, dengan pendekatan yang tepat. Contohnya. dengan peningkatan kesejahteraan melalui pengadaan fasilitas di daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Monday, July 19, 2010

"If I didn’t have you then. What will become of me? If I had never met you girl. How would my life be? Would I be the same? If I’d been loving another name. Would I stay untamed. Would there be any aim? So whom I will be.." -Daniel Sahuleka