Sunday, August 15, 2010

Cerbung: Ajarku Berbicara Tentang...


"Nggak ada yang tahu pasti apa arti memiliki sampai ia berbicara tentang kehilangan. Nggak ada yang tahu pasti apa arti mengampuni sampai ia berbicara tentang kekhilafan. Nggak ada yang tahu pasti apa arti memberi sampai ia berbicara tentang kekurangan."


Kereta ini menjejak bumi. Bak bunga kepada Sang Matahari, Ia memasrahkan tautan gerbong-gerbongnya kepada likuan rel. Sesekali disinggahinya stasiun-stasiun yang searah dengan tujuannya. Jika saya beruntung, saya akan terbangun ketika ia berhenti di sebuah stasiun kecil nan sederhanan.

Bangunan berbata merah itu berdiri di tengah apitan dua sungai kecil. Tingginya tak lebih dari tiga meter, dan lebarnya kira-kira lima puluh meter. Saya tak tahu pasti mengapa saya selalu tergoda untuk terperangah ke arahnya. Setiap kali kereta ini berhenti di sisinya, saya tak punya alasan untuk tak menyapukan pandangan ke tiap sudutnya.

Saya ingat, siang itu hujan turun segelontor, membuat bulu kuduk saya berdiri disiram hawa dingin yang bertubi. Dan akhirnya saya terbangun. Namun, belum lagi mengecap sadar, ternyata deruan kereta yang semakin melemah menggoda saya untuk menoleh keluar jendela. Di sana tertulis Stasiun Karanggandul. Satu kata yang terlintas di pikiran saya: menawan.

Kereta ini tak pernah punya banyak waktu untuk berhenti di stasiun itu, paling lama lima menit, itu pun hanya digunakan masinis untuk memeriksa roda-roda mesin di bawah gerbong. Beberapa kali saya mengamati persinggahan ini, namun tak pernah saya dapati seorang penumpang yang naik atau pun turun dari kereta yang saya tumpangi. Ingin sekali rasanya bertanya kepada awak kereta, namun entah kenapa saya tak pernah melihat mereka melewati bangku-bangku penumpang ketika kereta menyinggahi stasiun itu...


lihat lanjutannya di Nada Minor edisi Agustus 2010

Thursday, August 12, 2010

12 Januari 2009

Kali ini emang nggalah-ngalahin rekorku yang pertama. Nggak cuma lamanya, tapi juga lika-likunya. Mungkin kalau mau diceritain, bisa semalam suntuk kali ya ngetiknya, hehe jadi berasa ngetik paper aja. Well, nggak ada gunanya juga ngerunut-runut yang udah kejadian, biar jadi pengalaman aja. Satu yang pasti, banyak hal yang udah aku lewatin bareng kamu. Mulai dari yang paling miris, sampai yang paling WOW! Jadi nyadar, ternyata satu tahun tujuh bulan bisa jadi waktu yang lumayan panjang ya untuk diisi dengan berbagai macam hal. Nggak kebayang deh kalau aku harus ngelupain semuanya.

Buat kamu, makasih ya. Aku harap kamu bisa jadi orang yang jauh lebih baik, jauh lebih dewasa, dan mau belajar dari kesalahan yang udah udah. Maaf  kalo selama ini aku sering ngungkit-ngungkit kesalahan kamu yang dulu, itu karena aku nggak sesempurna Nabi yang bisa maafin dan ngelupain kesalahan seseorang gitu aja. Tapi aku janji, aku bakal berusaha untuk ngejalanin apa yang ada sekarang.

Over all, selamat satu tahun tujuh bulan ya, Mbem! Abdi bogoh ka anjeun :*
.

Sunday, August 08, 2010

Pasir Putih Sadranan

“Sinar keemasan itu mengecap gelembung kecil di sudut karang. Tatkala kemilaunya membelai lembut pandanganku, aku berdecak memuja mahakarya Sang Pencipta”

Lamat-lamat kupandangi pasir putih yang mengubur jejak kakiku. Hingga pada akhirnya, kutemui cakrawala berbatas samudera. Memukau, sungguh-sungguh memukau. Aku tergelak melihat isinya, betapa mempesona, pikirku. Ku ikuti senandung debur ombak yang selaras dengan kicauan burung di lintasan langit kebiruan, indahnya tak pernah terkira.

Pelan ku melayangkan pandanganku ke sisi barat, di sana terpatri karang kokoh yang membentuk gua. Kemudian sejajar dengan itu, ku amati susunan karang kecil yang melebur bersama ombak. Bayangkan! Kamu bisa mendengar hingar syahdu alam yang berkecamuk saking sepinya. Kini, belum lagi ku terperangah menikmati beningnya air di bibir pantai, ikan-ikan kecil sudah mampu mencuri perhatianku.

Tadinya, aku tak terlalu berharap jauh akan pantai yang kali ini menjadi tujuanku. Sekedar iseng-iseng yang ternyata berhadiah, aku dan tiga orang temanku menelusuri jalan ke arah salah satu kabupaten Gunung Kidul, Wonosari. Bisa jadi ini merupakan pengalaman tak terlupakan. Bagaimana tidak? Bermodal dua sepeda motor kami nekat menempuh waktu selama dua jam untuk sampai di pantai molek ini, Sadranan.

Berawal dari temu kangen antar sahabat SMA, kami akhirnya merencanakan hari yang akan kami habiskan bersama. Dan tak lama, muncul sederetan nama tempat-tempat yang pernah kami kunjungi. Tak banyak pembahasan akan rencana ini, karena memang kami sudah tahu medannya. Namun, tak sengaja seorang sahabatku menceletukkan satu nama pantai yang terdengar begitu asing di telingaku dan yang lainnya. Hmm.. memang dasar mental petualang, kami sepakat untuk banting setir ke arah pantai tersebut.

Subuh itu, hawa dingin Kota Jogja memang menelusup hingga ke tulang, namun itu tak sedikit pun menyurutkan semangat kami untuk berkelana. Sejenak aku membereskan isi tas ranselku, kemudian aku membantu seorang sahabatku yang sibuk mempersiapkan bekal kami, maklum katanya tak ada satu kedai pun di sana. Setelah semua persiapan terasa cukup, kami pun berangkat beriringan.

Kami menempuh perjalanan yang cukup panjang, kurang lebih sekitar 72 kilometer dari Kota Jogja. Sawah, pepohonan, bukit-bukit hijau hingga lembah, tersuguhkan di sepanjang perjalanan kami. Beberapa kali kami berhenti di persimpangan jalan untuk bertanya arah, namun ternyata tak banyak yang tahu tentang pantai ini. Benar kata sahabatku, pantai Sadranan merupakan salah satu pantai yang masih perawan.


Setelah dua jam perjalanan, kami sampai di pantai Baron. Kami sengaja menyinggahi pantai ini karena seorang sahabatku berkata bahwa untuk menuju pantai Sadranan harus melewati pantai Baron. Sesuai pentunjuk sekitar pantai Baron, kami menempuh jarak tujuh kilometer lagi untuk sampai di pantai Sadranan. Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Dua puluh menit berlalu, akhirnya kami sampai di jalan tanah yang terlihat sedikit offroad. Lima menit kemudian kami disambut oleh gundukan pasir putih yang sesekali berharmonisasi dengan gemuruh ombak. Tentu senyum tipis mengembang di wajah kami masing-masing. Kami memarkirkan sepeda motor di satu-satunya gubuk milik warga sekitar, sekali parkir untuk sepeda motor adalah Rp. 2.000 dan mobil Rp. 5.000. Sedangkan untuk masuk ke pantai, kami tak di pungut biaya sepeser pun. Murah bukan?  Jadi, tunggu apa lagi? Selamat menikmati pantai Sadranan, jangan lupa berikut sunsetnya.



Wednesday, August 04, 2010

Katanya Proses?

Kenapa ya, gue nggak pernah setuju ama sekolah yang nyari high quality student? Bukannya gue ngerasa nggak sanggup ama potensi diri gue dibandingin ama persyaratan yang  bla bla bla itu, tapi helooo kok kayaknya orang-orang zaman sekarang keliatan banget ya munafiknya? Nggak usah jauh-jauh deh, lo tonton aja acara di televisi, banyak banget acara multi talented yang para jurinya ngomongin soal PROSES! Kenyataannya, nggak ada yang berubah tuh dengan pemikiran kita.

Sekarang logikanya gini aja deh. Hampir semua sekolah di Indonesia ngebeberin segala macam tetek bengek persyaratan buat calon muridnya, alhasil, calon murid yang daftar pasti high quality dong (apa lagi yang keterima.pen), kalo udah begitu, apa yang dikerjain sekolah itu selama tiga tahun? Toh, dari orok murid yang diterima juga udah pinter, ya berarti persentase ketidaklulusan tuh sekolah juga kecil banget kan? Nah, coba lo bandingin dengan sekolah yang nerima murid 'ala kadarnya' tapi sekolah tersebut bisa ngebuat citranya bagus dengan meluluskan semua murid-muridnya, lo bisa banyangin dong gimana kerja keras sekolah tersebut selama tiga tahun?

Kenapa gue ngambil contoh dari dunia pendidikan sesederhana kinerja sebuah sekolah karena gue ngerasa sekolah tuh rumah ke dua lo setelah keluarga. Dan itu penting banget buat membentuk kepribadian lo semenjak awal. Kalo sekolah-sekolah aja nggak bisa praktekin hal-hal krusial seperti ini, gimana nasib penerus kita nanti? Karena kenyataannya apa yang dihilat justru yang mudah ditiru.

Dari contoh di atas aja udah ketauan kalo masih banyak orang-orang yang masih omdo (omong doang.pen) tentang proses. Lo gimana?

Sunday, August 01, 2010

Hallo, Batam!

"Berasa ada di Cina ya hasshh.."
"Ini orang-orang sipit bisa nggak sih pake Bahasa Indonesia aja kalo ngomong? Sakit telinga gue"
"Dasar pulau, pelayanannya sampah banget! errggghh"
"Ih, asik ke Singapur cuma sejaman"
"Mall di sini jelek-jelek ya, nggak menarik sama sekali"
"Sumpah, ini mobil berisik banget deh, berasa keren apa doi dengan geber-geber gitu?"
"Kaka? Tumbuk? Laju? Pipet? Nampak? Melayu banget nget nget ngeeeettt..."
"Yaampun, plis deh ya cici-cici dan koko-koko, pakaian kalian norak parah, cuma ke mall kan? berasa mau kemana. ck ck ck"
"Mau apa? Parfume? Ipod? BB? wahhh, murah ya"
"Ini kota demen banget deh plagiat Negara tetangga, ya WTC lah, ya Jembatan lah. Follower!"
"Tau nggak? Di sini pertama kali nya garbarata di pake. Keren ya?"
"Taxi gelapnya berjubel, udah gitu matok harganya semaunya!"

Overall, gue seneng bisa pulang lagi ke Batam!