Friday, November 12, 2010

Cerbung: Ajar Aku Berbicara Tentang...

Barangkali malam ini tak terlihat pas jika arakan awan menutupi bulan penuh yang menggantung di atas sana. Atau mungkin, tidak berlebihan jika sebotol Muscat yang berbalut ratusan uap air itu hilang dari daftar pesanan. Tidak, tidak ada yang istimewa kali ini, hanya perpisahan kecil-kecilan yang secara kebetulan terlihat menawan. Entahlah, apa ini perpisahan dengan mimpi-mimpi atau bahkan dengan cerminan diri.

Kertas persegi panjang ini memang tak akan pernah sampai kepadamu, wahai Neptunus. Karena memang sebenarnya aku hanya ingin berbicara kepada diriku sendiri. Berdiskusi tentang keadaanku di tengah angin malam, di depan setangkai bungaa lili kesukaan Ibu, dan di antara dentingan kord-kord piano yang terdengar tak lazim di telinga. Lebih dari itu, aku ingin bercengkrama dengan mimpi-mimpiku sebelum malam yang kemudian pasrah digusur pagi.

Mimpi, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri. Layaknya oase, ia mampu menyulap kadar kenyamananku serupa sungguhan. Bahkan, mimpiku mampu bermetamorfosis menjadi rasa manis yang ingin kukecap setiap saat. Boleh saja kamu bilang bahwa aku mempunyai afeksi berlebihan terhadap ekspektasiku, tapi ini nyata, setidaknya didalam kehidupan mimpiku.

Namun kurasa hatiku tahu, seperti logikaku pun tahu. Jika malam ini aku tidak memutuskan untuk berhenti bermimpi, itu karena aku tidak mengetahui bagaimana menangani kenyataan. Dan kesemuanya itu membawaku untuk kembali merunut tentang seutas perasaan mutual antara diriku dan sang mimpi, bagaimana aku bisa mengenalnya, bagaimana aku bisa merasa nyaman dengannya, dan bagaimana ketika akhirnya dia dan aku menyatu. Tapi sial, aku tak pernah tau bagaimana sulitnya mengarang argumentasi yang cukup relevan untuk berpisah dengannya.

Saat-saat seperti ini selalu membuatku berfikir, apa aku yang terdidik cacat oleh kegilaan Ibu terhadap mimpi, atau mungkin ada satu bahasa di semesta ini yang tidak terikut ke dalam paket genetikku, sehingga aku salah kaprah mengenai mimpi. Padahal rasanya, mimpi tak mempunyai macam varian harafiah yang membuatnya menjadi sebuah kata yang terkesan ambigu.

Kini aku sampai di bagian bahwa aku telah menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas sepak terjang sang mimpi. Bahwa dalam kesempatan pertama yang kudapatkan ketika pilihan ku jatuh pada perpisahan, aku masih gelagapan. Kenyataannya, sifat konsumtifku terhadap mimpi menciptakan sensasi yang mampu meledak-ledak barang tiga menit aku mengacuhkannya. Aku memeliharanya seperti seorang pesakitan yang menenangkan diri dengan cara menghisap darah yang terinfeksi, bukan dengan rehab berkala.




lihat akhir kisah ini di Nada Minor edisi November 2010...