Saturday, March 30, 2013

Human being.

It's funny when people keep saying "stop pretending" while in a time ahead they would grumbling "your Facebook status really annoys me!".

Because nowadays, people would be more proud if they could hide their problem perfectly. And, when they saw people who able to express their self above their problems, this man would say, "you ruined my day". So, I am wondering, who is sick between us? Me who reacted above my problem or you who blame others above your bad day?


Tuesday, March 12, 2013

Just because ... doesn't mean ...

Everything was so simple when I was there, next to you, Mom.

I feel the strong relation between those two coordinating conjunction. Even stronger than 'because' sometimes.
The only thing that landed in my mind was 'why?'.



...things get hard here and I just can't give up.


Sunday, March 10, 2013

Kartini-kartini Tulamben


“Ini bukan sirkus. Ini realita ketika konseptualisasi diri nggak pakai embel-embel jenis kelamin.”
Untuk kesekian kalinya gue memilih Tulamben sebagai destinasi penyelaman gue. Nggak tahu apakah ini yang kelima, keenam, ketujuh, atau kedelapan. Buat gue, digit nggak pernah jadi pertimbangan yang berpengaruh ketika nama Tulamben udah nyaplok di otak gue. Hangat udaranya, ombak tenangnya, batu-batu pantainya, isi lautnya, dan yang pasti... porter perempuannya.

Mungkin kebanyakan penyelam akan bercerita tentang schooling jack fish, baracuda, bumphead, atau biota laut lainnya sepulang dari Tulamben. Tapi, gue bisa pastikan kalau gue bukan satu di antara mereka. Buat gue, ada partisi yang lebih besar, yang memberi kesan tersendiri terhadap Tulamben. Bukan, bukan karena gue bisa datang-nyebur-pulang tanpa perlu ngegotong dive gear dari parkiran hingga pinggir pantai. Lebih dari itu, ini karena kehadiran porter-porter perempuan Tulamben yang nggak sekedar eksis dalam dunia angkut-mengakut, namun juga jaga-menjaga. Perhatikan, sekelebat mereka memang hadir sebagai porter, namun lamat-lamat ternyata bukan hanya dive gear yang mereka angkut, botol plastik pun diburu. Makanya, nggak heran kalau batu-batu pantai Desa Tirta di utara Pulau Bali ini nggak berseling dengan sampah pabrik.

Selain membawa dive gear,
mereka juga mengumpulkan sampah plastik.
Masih segar banget di ingatan gue. Kali pertama gue ke Tulamben, gue memang wah banget dengan fenomena yang satu ini. Lo banyangin, perempuan sebaya gue ngangkat satu tabung di kepalanya, dan dua scuba set di kiri dan kanannya. Saking wahnya, gue sampai ngikutin doi mulai dari area parkir hingga pinggir pantai. Di sepanjang jalan, gue sesekali pasang kuda-kuda, ya mana tau aja doi nggak kuat dan harus emergency landing (maksud gue, ngeletakin tabung atau scuba set-nya tiba-tiba gitu loh). Tapi emang dasar gue yang lebay, doi dengan santainya jalan berasa nyokap yang lagi nenteng keranjang isi tomat sekilo.

Terlihat asing? Pasti. Seumur-umur, gue belum pernah disuguhi pemandangan se-bikin-ngangak ini. Sempat gue menghitung-hitung jumlah berat beban yang mereka panggul, berharap menemui satu alasan yang relevan bagi seorang perempuan untuk memilih profesi sebagai porter. Tabung saja bisa 15 kilo, BCD dan teman-temannya mungkin 10 kilo. Total 25 kilo sejauh 150 meter. Fixed, ini ngelebih-lebihin Popeye!

Well, kebutuhan hidup memang menjadi alasan dasar mengapa perempuan-perempuan ini memilih menjadi porter. Namun, alasan tersebut nggak serta-merta ditanggapi dengan gegabah oleh anggota masyarakat pesisir setempat. Porter-porter perempuan ini kemudian dihimpun menjadi sebuah organisasi mandiri yang dikepalai oleh seorang koordinator. Nah, kalau lo pernah mendatangi loket pembayaran di sudut area parkir Tulamben, lo akan tahu bahwa selain retribusi Pemerinah Daerah (PemDa), ada juga biaya untuk jasa porter, yakni sebesar IDR 9.000 per tamu. Bedanya, retribusi PemDa dikelola oleh petugas dari PemDa, sedangkan biaya untuk jasa porter dikelola oleh koordinator organisasi porter yang tadi gue sebutin.

Loket pembayaran retribusi dan jasa porter Tulamben
Akumulasi pemasukan yang diterima oleh koordinator organisasi porter ini kemudian akan dibagi rata ketika para porter ini selesai bekerja, yaitu pada pukul enam sore waktu Tulamben (waktu Bali juga, sih, ya hehe). Setelah pukul enam sore, porter perempuan akan digantikan oleh porter laki-laki. Sistem ini diatur sedemikian rupa agar keselamatan porter perempuan tetap terjaga. “Boleh jadi porter tapi juga tetap harus dibina”, begitu kata sang koordinator.

Jujur, fakta lapangan di atas udah gue duga sebelumnya. Sedari awal, porter-porter perempuan ini memang nggak terkesan sama dengan pemungut liar di bilangan objek wisata lain. Mereka nggak pakai istilah muka melas atau berlaku sok heroik demi meraup tips tambahan. Yang mereka lakukan nggak pernah lebih dari definisi porter secara literally. Angkut, panggul dan letakkan. Sebatas itu. Sesimpel itu. Namun, se-ngebantu ini.

Pernah sekali waktu, ketika gue sedang menunggu surface interval. Gue yang bingung karena nggak ada kerjaan ini akhirnya mengeluarkan sebuah buku panduan wisata seputar dive site di Bali yang gue comot dari hotel. Niat nggak niat gue ngebolak-balik lembar demi lembarnya, sampai akhirnya gue menemui sebuah artikel yang memajang foto porter-porter perempuan dengan latar belakang pantai Tulamben. Judul artikelnya “Are You Man Enough to Let A Girl Carry Your Scuba Gear?”.

Girls can do man's job!
Gue nggak punya alasan untuk terkesima. Ya... bisa dibilang, gue biasa aja. Tapi, ketika gue dengan reaksi yang biasa aja ini sedang membaca artikel tersebut, tiba-tiba seorang porter menunjuk ke arah foto artikel yang terpampang di depan gue. Dengan logat Bali yang kental gadis itu berteriak, “Ehhh cai ne, cai!”. Sontak gue melihat muka si gadis dan berkata, “Kamu yang mana di sini?”. Nggak sampai semenit, gue udah dikerubungi enam porter yang juga ingin melihat foto yang sama. Seorang porter di sebelah kanan gue berceletuk, “Ne cai waktu masih SD ne!”. Dalam hati, gue tersenyum.

Hal tersebut nggak jauh berbeda ketika di sebuah siang gue sedang menyantap baqquete di restauran hotel yang berada di pinggir pantai. Tiga meter dari tempat dimana gue duduk, seorang Bule bersama guide-nya sedang mempersiapkan scuba gear mereka. Ketika porter perempuan datang untuk mengangkut scuba gear mereka, tiba-tiba si guide berkata, “Have you ever seen strong-girl like this outside Tulamben?”. Tak butuh semenit untuk mendapatkan jawaban yang maha banget menurut gue. Si Bule berkata, “Not yet. But I guess she’s not different with any girl outside Tulamben, she is just proved that she also could do this man’s job.”. Lagi-lagi, gue tersenyum dalam hati.

Kartini-kartini Tulamben
Satu hal kenapa gue selalu tersenyum dalam hati ketika mendengar cerita tentang porter-porter perempuan di Tulamben adalah karena reaksi orang-orang di sekitarnya. Nggak ada yang menganggap hal tersebut istimewa. Lebih dari pada itu, mereka justru mengapresiasinya dengan cara yang amat baik. Pelan-pelan, mereka melebur fenomena tersebut menjadi sebuah budaya. Membiarkannya hidup berbarengan dengan pemahaman bahwa konseptualisasi diri nggak butuh penggolongan atas nama jenis kelamin. Sepanjang mereka mampu mencipta sintesis atas perbedaan yang ada, selama itu pula mereka akan hidup berdampingan untuk menjaga kelangsungan sintesis tersebut.

Sesuatu mengubah cara pandang gue ketika mengetahui bahwa mereka bukan porter-porter perempuan biasa. Bukan perkara seberat apa yang mereka pikul, bukan juga perkara atas alasan apa mereka menjadi porter. Ini perkara apa yang ditawarkan anggota masyarakat pesisir setempat demi mengakomodir pertumbuhan ekonomi sekaligus kelestarian alam mereka. Ini perkara kearifan lokal yang arifnya jauh ngelebihin orang kota seperti gue. Kita yang selalu punya argumen mengenai persamaan gender, kita yang merasa aware dengan isu tersebut, namun mirisnya, kita yang malah diajari oleh mereka.

Sekali lagi, ada yang menarik, ada yang secara nggak langsung mencibir pertanyaan seputar persamaan gender. Kalau para lelaki masih bisa bertanya, “Ya perempuan bisa sekolah tinggi-tinggi, bisa kerja di konstruksi, tapi perempuan bisa nggak benerin atap bocor di genteng?”. Gue saranin lo ke Tulamben dan lo liat kalau kaum gue bisa ngelakuin hal yang selama ini identik dengan kekuatan kaum laki-laki. Hidup Kartini-kartini Tulamben!

Foto dalam artikel ini merupakan hasil karya penulis